Kamis, 28 Juni 2012

Pembentukan perilaku menyimpang

Pembentukan perilaku menyimpang Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus-kasus yang dapat dikategorikan sebagai penyimpangan sosial. Kasus-kasus ini semakin hari semakin meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya sehingga menjadi masalah sosial yang harus ditangani dengan serius dan maksimal. Contohnya, seperti tindakan kriminal, penyimpangan seksual, penyalahgunaan narkoba, dll. Tindakan kriminal merupakan suatu bentuk penyimpangan terhadap aturan dan perundang- undangan yang berlaku di masyarakat. Kejahatan ini ada yang dilakukan terhadap manusia, seperti pembunuhan dan penodongan, dan ada pula yang dilakukan terhadap negara. Perilaku kejahatan yang dilakukan terhadap negara dapat dilakukan terhadap negara dapat dilakukan secara individu maupun kelompok, misalnya melakukan kudeta den mengadakan kekacauan. Kejahatan terhadap negara bisa mengganggu stabilitas dan keamanan negara sehingga mengganggu ketentraman masyarakat. Penyimpangan seksual merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang dan melanggar norma-norma dalam kehidupan masyarakat. Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual tidak sewajarnya seperti homoseksual dan lesbian. Penyalahgunaan narkoba dapat disebut sebagai penyimpangan karena telah melanggar hukum. Penggunaan obat-obatan jenis narkotika telah diatur dalam seperangkat aturan yang sifatnya formal. Oleh sebab itu, penggunaan narkotika hanya dianggap sah apabila digunakan untuk kepentingan positif, seperti kepentingan medis (pengobatan) di bawah pengawasan ketat pihak berwenang seperti dokter. Kepribadian menyimpang dalam diri seseorang dapat terbentuk karena adanya faktor yang dapat mendorong terbentuknya kepribadian menyimpang itu. Pembentukan kepribadian seseorang untuk pertama kalinya akan berawal dari keluarga. Keluarga merupakan faktor penentu bagi perkembangan atau pembentukan kepribadian seorang anak selanjutnya. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik bila ia terlahir dalam lingkungan keluarga yang baik. Sebaliknya, kepribadian seorang anak akan cenderung negatif jika ia terlahir dalam lingkungan keluarga yang kacau yang dibebani dengan berbagai macam masalah dan kemiskinan yang mencekik, atau keluarga yang selalu diliputi oleh percekcokan, kehilangan peran orang tua untuk membimbing dan mendidik karena orang tua yang kecanduan minuman keras atau obat bius, pengangguran, bahkan terlibat dalam tindakan kriminalitas, dan sebagainya. Keluarga senacam ini akan gagal memenuhi fungsinya untuk membentuk kepribadian yang baik karena keluarga ini gagal mensosialisasikan nilai-nilai baik dalam diri anaknya. Itulah sebabnya mengapa keluarga dapat berperan dalam membentuk perilaku menyimpang. Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seorang individu dalam proses pembentukannya. Seorang individu yang tinggal dalam lingkungan yang baik, para anggotanya taat dalam melakukan ibadah, dan melakukan perbuatan yang baik dan positif, akan mempengaruhi kepribadiannya menjadi baik. Sebaliknya, bila seseorang individu hidup dan tinggal dalam lingkungan yang buruk, warga masyarakatnya suka melakukan tindakan kriminalitas seperti perampokan, pencurian, suka menggunakan obat bius, dan mengedarkan narkoba, cenderung akan membentuk kepribadian yang buruk atau menyimpang. Nilai-nilai moral yang positif tidak dapat diserap selama proses pembentukan kepribadiannya berlangsung, apalagi jika proses sosialisasi dalam keluarga gagal membentuknya menjadi pribadi yang baik. Jadi, lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi menyimpang. Lingkungan tempat tinggal dan kelompok bermain memiliki keterkaitan, karena seorang individu akan memiliki kelompok bermain atau pergaulan dalam lingkungan tempat tinggalnya tersebut. Namun adakalanya, seorang individu juga memiliki kelompok bermain atau pergaulan di luar lingkungan tempat tinggalnya tadi yang ia peroleh dari lingkungan kampus atau di luar kampus. Kelompok bermain atau pergaulan ini juga dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu. Jika ia memiliki kelompok bermain yang positif, suka belajar, dan melakukan hal-hal atau perbuatan baik, maka perilakunya cenderung positif. Sebaliknya, apabila seorang individu memiliki kelompok bermain yang negatif, maka pola kepribadiannya akan cenderung negatif, suka bolos dan malas belajar. Media massa dapat disebut sebagai media sosialisasi yang dapat mempengaruhi kepribadian seseorang. Pemberitaan yang ada di media massa, seperti surat kabar, televisi atau internet dapat memicu maraknya perilaku menyimpang. Misalnya, tayangan yang berbau pornografi, pornoaksi, dan kekerasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar