Kamis, 28 Juni 2012

Perilaku yang Demokratis

Perilaku yang Demokratis Demokratis akan tegak apabila didukung oleh perilaku warga negara yang demokratis. Demikian pula, demokrasi dalam suatu negara hanya akan tumbuh apabila dijaga oleh warga negara yang demokratis. Warga negara yang demokratis bukan hanya dapat menikmati kebebasan individu, tetapi juga mampu memikul tanggung jawab secara bersama-sama dengan orang lain untuk membentuk masa depan yang cerah. Warga negara perlu menunjukkan perilaku yang demokratis. Perilaku yang demokratis merupakan perilaku yang dapat mendukung tegaknya prinsip-prinsip demokrasi. Perilaku demokratis warga negara merupakan cerminan adanya kepribadian yang demokratis. Perilaku yang demokratis merupakan pencerminan dari masyarakat yang memiliki budaya demokrasi. Demokrasi tidak datang dengan sendiri atau tumbuh dengan sendirinya di suatu negara. Demokrasi harus diupayakan, dibangun, dipelihara, dan dipertahankan. Oleh karena itu, perlu upaya yang nyata dari seluruh warga bangsa maupun penyelenggara negara untuk membangun pemerintahan demokrasi maupun budaya demokrasi. Masyarakat yang memiliki budaya demokrasi akan sangat mendukung kelangsungan hidup negara demokrasi. Negara demokrasi tidak hanya membutuhkan pemerintahan yang demokratis, tetapi juga budaya demokrasi di kalangan warga negara. Sekarang, saya sadar akan pentingnya budaya demokrasi bagi negara demokrasi. Menjadi tanggung jawab kita selaku warga negara untuk meyakini, menanamkan, dan menerapkan budaya demokrasi di berbagai lingkungan kehidupan. Budaya demokrasi juga mencerminkan kepribadian yang demokratis. Menurut Rusli Karim, ciri kepribadian yang demokratis adalah sebagai berikut: a. Inisiatif b. Disposisi resiprositas c. Toleransi d. Kecintaan terhadap keterbukaan e. Komitmen dan tanggung jawab f. Kerja sama keterhubungan Sebaliknya, kepribadian yang tidak demokratis akan merusak sendi-sendi demokrasi negara. Misalnya, merasa benar sendiri dan tidak mau mengakui keberagaman. Orang yang demikian akan sulit diajak bermusyawarah. Contoh lainnya adalah perilaku suka kekerasan, sikap tertutup, tidak mau menerima kekalahan, dan memaksakan diri. Kepribadian yang demokratis akan melahirkan perilaku-perilaku yang demokratis. Perilaku demokratis tidak hanya milik warga negara biasa, tetapi juga harus dimiliki para pejabat politik dan aparat negara/pemerintahan. Pejabat dan penyelenggara negara mutlak memiliki kepribadian dan perilaku yang demokrasi karena merekalah yang lebih menjalankan lembaga-lembaga demokrasi. Selain itu, mereka akan jadi contoh bagi perilaku warga negara. Untuk itu budaya demokrasi perlu ditumbuhkembangkan, baik di tingkat rakyat maupun bagi para pejabat negara. Caranya adalah dengan melalui pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi dapat dilakukan melalui jalur informal, formal, dan nonformal. Keluarga merupakan pendidikan informal untuk menanamkan demokrasi pada anggota keluarga. Keluarga perlu menanamkan budaya demokrasi, misalnya menghargai perbedaan, senantiasa musyawarah, pembagian tugas, dan lain-lain. Jika keluarga membiasakan budaya demokrasi maka dalam diri anak akan terbentuk kepribadian demokrasi sejak kecil. Perkuliahan merupakan jalur formal untuk melakukan pendidikan demokrasi. Salah satu pendidikan demokrasi di perkuliahan adalah mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Melaui Pendidikan Kewarganegaraan, warga negara Republik Indonesia diharapkan mampu memahami, menganalisa, dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negaranya secara konsisten dan berkesinambungan dengan cita-cita tujuan nasional seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945. Pendidikan Kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap mental yang cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari pesrta didik. Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya mengemban misi sebagai pendidikan demokrasi. Jalur informal, misalkan melalui kegiatan rapat-rapat di masyarakat, ikut serta dalam suatu partai, ikut pilkada, dan lain-lain. Melalui keterlibatan langsung warga terhadap hal tersebut maka dapat menumbuhkan budaya demokrasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar